Sumitronomics dan Peran Bank Sentral
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini mengulas perdebatan intelektual seputar peran bank sentral antara Soemitro Djojohadikoesoemo, ekonom Indonesia, dan Hendrik Teunissen, anggota direksi De Javasche Bank, pada sekitar tahun 1951. Teunissen berpendapat bank sentral harus menjaga stabilitas harga melalui pembatasan peredaran uang dengan pendekatan teknokratik-independen ala bank sentral Eropa. Sebaliknya, Soemitro menolak gagasan itu dan menegaskan bahwa volume uang beredar seharusnya ditentukan oleh pemerintah, bukan bank sentral, karena kebijakan moneternya merupakan bagian dari kedaulatan nasional negara yang baru merdeka.
Para pendiri bangsa Indonesia menilai otonomi teknokratik bank sentral pada era kolonial hanyalah selubung untuk melindungi kapitalisme Belanda. De Javasche Bank, yang presiden dan direksinya diangkat oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan persetujuan Raja Belanda, dinilai berfungsi sebagai medium 'drainase surplus value' — mengalirkan kekayaan Indonesia ke Belanda melalui ekspor yang jauh melebihi impor, bukan untuk membangun ekonomi domestik. Presiden De Javasche Bank sendiri secara terbuka mengakui kepuasannya atas 'independensi' bank tersebut yang tetap terjaga, yang pada kenyataannya melindungi bank-bank asing dan menghambat munculnya pesaing pribumi di sektor perbankan dan perdagangan luar negeri.
Bagikan
Berita terkait
Dolar AS Diramal Masih Rp 18.000 sampai Akhir Tahun, Setelah Itu?
Detik.com · 29 September 2026 pukul 15.05
DBS: Mayoritas bank sentral Asia “wait and see” jelang akhir tahun
ANTARA News · 28 September 2026 pukul 18.50
Saldo Anggaran Lebih (SAL) Tak Lagi Ditempatkan di BI, Ini Aturan Barunya
kumparan · 28 September 2026 pukul 11.38
Harga Rendah, Bank Sentral Dunia Makin Gencar Borong Emas
SINDOnews · 27 September 2026 pukul 17.21