Susah Payah Lepas dari Jerat Tramadol
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel Detik.com mengangkat kisah dua perempuan, Hayati dan Lara, yang berjuang melepaskan diri dari ketergantungan obat Tramadol dan beberapa obat keras lainnya. Hayati, 25 tahun, pertama kali mengenal obat itu dari seorang teman saat masa sulit. Selama lima tahun ia terjebak adiksi, menghabiskan hingga Rp 500 ribu seminggu untuk membeli obat. Lara, seorang pemandu lagu, justru mengonsumsi hingga belasan tablet Tramadol per hari. Ia pernah dilarikan ke rumah sakit karena menggigil hebat dan mengalami kejang dua kali yang disaksikan oleh anaknya. Keduanya menuturkan bahwa lingkungan pergaulan dan kemudahan akses menjadi faktor utama terjeratnya mereka dalam kecanduan.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan peredaran Tramadol ilegal menjadi prioritas utama penanganan lembaganya. Pada 2025, tercatat 386 temuan kasus peredaran Tramadol dan 258 temuan hingga Mei 2026. BPOM juga telah menurunkan ribuan tautan promosi obat ilegal di platform digital sejak 2023. Provinsi Banten menjadi wilayah dengan temuan tertinggi (265 kasus pada 2025 hingga Mei 2026), diikuti Jawa Barat (121) dan Sulawesi Selatan (94). Taruna menyoroti bahwa penyalahgunaan Tramadol bergeser dari tujuan medis ke nonmedis, dipengaruhi rendahnya pengetahuan masyarakat, pengaruh teman sebaya, dan kebiasaan di kalangan pekerja informal yang mengonsumsinya untuk meningkatkan stamina kerja.
Bagikan
Berita terkait
2 Pengedar Tramadol di Pasar Tanah Abang Ditangkap, Ribuan Obat Keras Disita
Detik.com · 14 Agustus 2026 pukul 00.57
97.676 Tablet Tramadol Dimusnahkan BPOM Surabaya, Selamatkan 10 Ribu Pelajar
JPNN.com · 6 Agustus 2026 pukul 16.10
Dedi Mulyadi: Tramadol hingga Tawuran Bentuk 'Penjajahan' Tak Terlihat
kumparan · 17 Agustus 2026 pukul 12.49
Polisi Tangkap Pengedar Obat Keras di Jakpus, Ratusan Butir Tramadol Disita
Detik.com · 16 Agustus 2026 pukul 10.33