Jakarta · Rabu, 2 September 2026Cari
WargaKonoha

Tak Bisa Ikuti Tren Perang Modern, Angkatan Laut AS Kini Kian Terpuruk

Serangkaian operasi militer AS-Israel yang dilancarkan pada akhir Februari 2026 terhadap Republik Islam Iran tidak berjalan sesuai harapan, justru menjadi contoh kegagalan strategis Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebalik dari dominasi yang diharapkan, AS enggan mendekatkan kapal perang utamanya ke garis pantai Iran karena ancaman sistem pertahanan Iran yang kuat, termasuk rudal anti-kapal, kapal serang cepat, dan drone. Sebaliknya, AS memilih untuk menyerang dari jarak jauh di Laut Arab dan Teluk Oman, sementara kapal seperti USS Abraham Lincoln tetap berada di luar cakrawalan. Akibatnya, AS tak mampu memproyeksikan kekuatan secara efektif di perairan dekat Iran, sekaligus menghadapi banyak kecelakaan kapal yang mencurigakan dan menurunkan moral pasukannya.

Operasi ini juga mengungkap krisis logistik dan kondisi fisik yang buruk di armada AS. Kapal induk USS Abraham Lincoln bertugas selama lebih dari 270 hari tanpa singgah di pelabuhan, menyebabkan penuh mekanis kapal rusak dan kesejahteraan awak yang menurun. Laporan dari keluarga dan jurnalis militer menggambarkan kualitas makanan yang buruk dan kekurangan gizi yang dialami para pelaut. Meskipun Pentagon menyebut kecelakaan-kecelakaan tersebut sebagai insiden terisolasi, frekuensi dan pola kejadiannya menunjukkan masalah sistemik yang lebih dalam.

Secara keseluruhan, konflik ini menandai pergeseran signifikan dalam keseimbangan kekuatan angkaran laut regional. Iran berhasil mencegah AS mengakses Selat Hormuz dan Teluk Oman dengan efektif, memaksa kapal AS mundur hingga 400 kilometer jauhnya. Hal ini menantang asumsi dominasi maritim AS di wilayah tersebut dan menimbulkan pertanyaan serius tentang kemampuan dan kesiapan operasional armada AS di masa depan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait