Jakarta · Selasa, 6 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Tangis Petani Nyalakan Alarm Bahaya, 10 Tahun Lagi Karet RI Punah

Petani karet di Indonesia memberikan peringatan keras bahwa komoditas karet nasional berisiko punah dalam 10 tahun jika tidak ada intervensi serius dari pemerintah. Peringatan ini disampaikan oleh Ketua DPW Apkarindo Sumatra Selatan, Supartijo, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IV DPR RI. Menurutnya, sebagian besar perkebunan karet rakyat sudah tua dan produktivitasnya rendah, sehingga banyak petani beralih menanam kelapa sawit yang lebih menguntungkan. Data Apkarindo menunjukkan produksi karet nasional turun drastis dari 3,68 juta ton pada 2017 menjadi sekitar 2,1 juta ton pada 2025, akibat penyakit gugur daun, konversi lahan, dan rendahnya produktivitas.

Kondisi industri pengolahan karet juga semakin melemah. Dari 157 pabrik crumb rubber yang ada per 30 September 2026, 60 unit telah berhenti beroperasi, dengan 52 di antaranya berhenti secara permanen. Di Sumatra Selatan, jumlah pabrik karet berkurang dari 30 menjadi 19, dan sebagian besar tidak beroperasi penuh karena minimnya bahan baku. Para pekerja pun mulai meninggalkan sektor ini karena upah yang tidak menjanjikan, hanya Rp50.000-Rp60.000 per hari.

Apkarindo meminta pemerintah untuk memberikan dukungan yang lebih adil, seperti peremajaan lahan, bantuan sarana produksi, dan pendirian Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet. Jika tidak ada langkah konkret, lanjut Supartijo, karet hanya akan tersisa sebagai kenangan, sementara lahan terus diubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Berita terkait