Petani Karet RI Menjerit ke DPR-Cerita Tak Pernah Makan Enak, Ada Apa?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Petani karet di Indonesia mengeluhkan minimnya dukungan pemerintah terutama dalam konteks peralihan lahan ke perkebunan sawit. Selama rapat dengan Komisi IV DPR RI, Ketua DPW Apkarindo Sumatra Selatan, Supartijo, menyampaikan bahwa sawit mendapat subsidi besar (Rp60 juta/hektar) sementara karet hanya dibiarkan. Mayoritas kebun karet merupakan tanaman tua (1980-an-2000-an) dengan produktivitas rendah dan overtapping. Harga karet naik namun tidak menguntungkan karena hasil produksi menurun. Petani beralih ke sawit karena keuntungan cepat, meninggalkan profesi penyadap karet yang gaji Rp50.000-Rp60.000/hari. Produksi karet turun dari 3,68 juta ton (2017) menjadi 2,1 juta ton (2025), dengan utilitas industri di bawah 50%. Apkarindo usulkan pembentukan BPDP Karet untuk rehabilitasi dan dukungan bibit serta pupuk.
Bagikan
Berita terkait
Tangis Petani Nyalakan Alarm Bahaya, 10 Tahun Lagi Karet RI Punah
CNBC Indonesia · 6 Oktober 2026 pukul 17.10
Apkarindo Dorong Karet Masuk Skema Badan Pengelola Dana Perkebunan
Media Indonesia · 14 September 2026 pukul 16.44
Kejayaan Karet RI Nyaris Hilang-Petani Sebut Jadi Anak Tiri, Ada Apa?
CNBC Indonesia · 6 Oktober 2026 pukul 17.45
Gelar Demo, SPKS Desak DSI Tak Bebankan Margin Ekspor kepada Petani Sawit
JawaPos · 26 September 2026 pukul 08.11