Tata Kelola Fiskal harus Diperkuat demi Optimalisasi Belanja Negara
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Rahma Gafmi, Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga, menekankan pentingnya penguatan tata kelola fiskal agar belanja negara optimal dan berdampak ekonomi maksimal. Menurutnya, penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijatan Fiskal (KEM-PPKF) harus mengintegrasikan indikator tata kelola berbasis kinerja dan kepastian hukum struktural, bukan hanya mengandalkan asumsi makro konvensional seperti pertumbuhan, inflasi, dan suku bunga.
Rahma mengingatkan bahwa efek penggunaan belanja negara tidak selalu linear dengan pertumbuhan ekonomi. Ia menyoroti pentingnya memperhatikan lokasi dan kecepatan perputaran uang (velocity of money), serta efisiensi belanja di daerah. Jika birokrasi lambat atau tidak produktif, transfer ke daerah dan belanja modal perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan beban fiskal atau utang.
Presiden Joko Widodo, melalui Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan arah kebijakan fiskal 2027 yang bertujuan mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Target pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditetapkan pada kisaran 5,8–6,5%, dengan pendapatan negara 11,82–12,40% dari PDB. Delapan program strategis meliputi kedaulatan pangan, kemandirian energi, pendidikan, kesehatan, hingga industrialisasi.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 21.40
Ini Komentar 8 Partai Soal APBN Rp4.097 T Rancangan Prabowo
Berita terkait
Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan: Tantangan Indonesia Membangun Ekonomi yang Adil
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 08.30
Prabowo: Belanja Negara RAPBN Tahun 2027 Rp 4.097,2 Triliun
kumparan · 14 Agustus 2026 pukul 16.07
Prabowo Yakin Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6 Persen pada 2026
CNN Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 10.47
Ekonomi Tumbuh Stagnan 5%, Terungkap 1 Kesalahan Fatal yang Bikin RI Tertinggal dari Vietnam
SINDOnews · 11 Agustus 2026 pukul 16.32