Tetangga RI Diguncang Perang Saudara, Militer Vs Sipil-100.000 Tewas
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Militer Myanmar meningkatkan serangan udara yang menyasar warga sipil menjelang pemilu yang digelar pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Menurut laporan Independent Investigative Mechanism for Myanmar (IIMM) yang dirilis pada 11 Agustus 2026, konflik bersenjata di Myanmar telah menewaskan sekitar 100.000 orang dan memaksa jutaan warga mengungsi sejak kudeta militer pada 2021. IIMM mendokumentasikan pola serangan udara yang disengaja terhadap rumah warga, sekolah, fasilitas kesehatan, bangunan keagamaan, dan kamp pengungsi internal. Taktik yang digunakan termasuk penggunaan paramotor, girokopter, dan pesawat nirawak dengan bahan peledak tanpa sistem pemandu, serta teknik 'motor dimatikan sebelum mencapai sasaran' yang membuat warga sipil hampir tidak memiliki peringatan sebelum serangan. Laporan ini juga mengungkapkan adanya penyiksaan fisik dan seksual, penahanan sewenang-wenang, dan kematian dalam tahanan di fasilitas yang dikelola militer Myanmar. Pemilu yang dikelola militer dan dimenangkan oleh partai yang didukung militer tersebut dikritik pemerintah Barat dan kelompok hak asasi manusia karena dianggap tidak bebas dan tidak adil. Pemimpin junta Min Aung Hlaing juga melakukan kunjungan ke Thailand pada bulan ini untuk memperoleh legitimasi internasional. IIMM berharap pengadilan internasional dapat memberikan keadilan bagi para korban konflik di Myanmar.
Bagikan
Berita terkait
Panas Perang Saudara Tetangga RI, Militer Bunuh Sipil-100.000 Tewas
CNBC Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 06.05
Babak Baru Perang Saudara Tetangga RI, Pemberontakan di Ujung Tanduk
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 07.00
Mulai Renggang, Trump Tak Mau Sering-Sering Bertemu Korea Selatan
CNBC Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 14.45
Ukraina-Rusia Terus Saling Serang, 19 Orang Tewas
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 12.47