Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Turbulensi NU, Menjelang dan Pasca Muktamar

Nahdlatul Ulama (NU) lahir pada 1926 sebagai produk institusionalisasi nilai-nilai Islam Aswaja yang mengalami proses pribumisasi di Nusantara, khususnya di Jawa. NU memiliki basis kultural kuat di tiga pilar: Jawa, desa, dan pesantren, dengan pesantren sebagai pranata sosial dominan. Organisasi ini tidak hanya berakar pada konteks keagamaan lokal, tetapi juga terlibat dalam pertarungan gagasan kebangsaan, politik kekuasaan, dan isu modernitas, sehingga mengalami transformasi dan mobilitas sosial. Secara ideologis, NU menganut pemikiran moderat yang diturunkan dari tradisi Islam klasik Aswaja dan warisan para wali di Nusantara, termasuk dukungan terhadap patriotisme anti-kolonialisme seperti doktrin 'Cinta Tanah Air adalah Bagian dari Iman' dan 'Resolusi Jihad'. NU juga pernah terlibat dalam politik kekuatan, termasuk berdirinya partai politik dan pembentukan kelompok gerakan kebangsaan, pemikiran, dan ekonomi-dagang. Setiap Muktamar NU dipengaruhi oleh dinamika aktor internal dan eksternal, yang kadangkala menimbulkan konflik terbuka atau bahkan membelah organisasi. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa meskipun terjadi turbulensi, NU cenderung pulih dan tetap berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Tantangan utama NU saat ini adalah menjaga eksistensi strukturnya di tengah era disrupsi, di mana pragmatisme material dan politik sering menggantikan nilai ideologi, sekaligus menjaga relevansi visi dan misinya di tengah perubahan sosial-ekonomi yang cepat. Muktamar 2026 menjadi sorotan khusus karena konflik yang muncul lebih awal, dipicu oleh pergeseran pengurus, isu pertambangan, dan dinamika politik internasional. Aktor-aktor seperti Cak Imin, Gus Ipul, dan Nusron Wahid sering menjadi 'pemain' yang memengaruhi arah Muktamar. Di balik semua dinamika ini, NU tetap menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai tradisionalnya sambil beradaptasi dengan tantangan modern, sekaligus mengandalkan dukungan dari tokoh-tokoh sejarah seperti Mbah Wahab, KH Hasyim Asy'ari, dan KH Bisri Syansuri untuk menjaga stabilitas dan arah organisasi.

Berita terkait