Video: Reformasi Subsidi BBM - Listrik, RI Wajib Atasi Masalah Data
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Lonjakan harga minyak global akibat geopolitik keteganan Iran-Amerika Serikat meningkatkan beban impor energi Indonesia. Pada akhir Juni 2026, subsidi energi mencapai Rp 233 triliun, dengan proyeksi naik hingga Rp 526 triliun pada 2027 jika harga minyak tetap tinggi dan nilai tukar melemah. Imaduddin Abdullah dari INDEF menjelaskan subsidi energi dipengaruhi oleh harga global, kurs, dan konsumsi domestik, sementara ketergantungan impor energi menjadi celah fiskal yang signifikan.
Masalah utama meliputi ketidakakuratan sasaran subsidi hingga 42% dan fokus pada komoditas bukan masyarakat. Ahmad Zuhdi dari Energy Shift Institute menyoroti subsidi fosil membatasi anggaran pembangunan nasional dan strategi kompensasi belum tepat sasaran. Reformasi subsidi energi dan percepatan transisi energi diusulkan sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan impor dan beban fiskal yang tidak berkelanjutan.
Kedua ahli menekankan pentingnya kebijakan yang transparan dan berbasis data untuk memastikan subsidi tepat sasaran dan mendukung transisi ke energi terbarukan. Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada energi fosil agar fiskal negara lebih stabil dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNN Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 07.42
RAPBN 2027, Pemerintah Siapkan Subsidi BBM-Listrik Rp272 T
Berita terkait
Video: Subsidi Energi Bengkak dan Bebani APBN, Reformasi Energi Mendesak
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 11.32
ClientEarth dan CPI Kolaborasi Perkuat Transisi Energi Berkeadilan
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 17.40
Soal Minyak dari Rusia, Bahlil: Negara yang Impor, Bukan Pertamina
CNBC Indonesia · 5 Agustus 2026 pukul 20.10
Kabar Baik, Insentif Kendaraan Listrik Bakal Diumumkan dalam Sepekan
JPNN.com · 4 Agustus 2026 pukul 14.36