WiLAT Indonesia: Kesetaraan Gender Kunci Transisi Ekonomi Hijau
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

WiLAT Indonesia menyelenggarakan WiLAT Indonesia Gathering 2026 dengan tema 'Beyond ESG: Ketika Perempuan Menjadi Arsitek Ekonomi Sirkular' di Jakarta pada 29 Juli 2026. Forum ini didukung oleh Policy+ dan ViriyaENB, serta menekankan perlunya integrasi kesetaraan gender ke dalam kebijakan pembangunan berkelanjutan guna mempercepat transisi ekonomi hijau. Penerapan prinsip ESG tidak boleh sekadar pemenuhan kepatuhan, melainkan harus menempatkan perempuan sebagai penggerak utama perubahan.
Ketua WiLAT Indonesia Nurmaria Sarosa menegaskan bahwa perempuan harus berperan sebagai pembuat solusi dan arsitek perubahan, bukan sekadar penerima manfaat, dalam menghadapi krisis iklim dan transformasi ekonomi. Menurutnya, kesetaraan gender harus menjadi strategi utama pembangunan ekonomi hijau karena keragaman perspektif terbukti melahirkan inovasi yang lebih inklusif, keputusan berkualitas, dan solusi berkelanjutan. Nurmaria menekankan bahwa transisi menuju ekonomi sirkular membutuhkan investasi pada teknologi hijau sekaligus investasi pada manusia, dan pemberian kesempatan setara bagi perempuan untuk memimpin dan berinovasi akan membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh bagi Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Eddy Soeparno: Ekonomi Karbon Harus Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru RI
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 14.17
Bukan Sekadar Ikuti Tren Global, Bappenas Tekankan Ekonomi Hijau Arah Strategis RI
JPNN.com · 8 Agustus 2026 pukul 11.34
Dukung Ekonomi Hijau, TBS Foundation Munculkan Inovasi Bisnis Mahasiswa
SINDOnews · 6 Agustus 2026 pukul 18.21
Bappenas Ungkap Transisi Ekonomi Hijau Bisa Buka 5 Juta Lapangan Kerja
CNN Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 12.32