Ada Cara Hemat, Ekonom Pertanyakan Wacana Prabowo Cetak Ulang Buku Sekolah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wacana pemerintah untuk mencetak ulang buku pelajaran sekolah jenjang SD, SMP, hingga SMA menuai sorotan karena membutuhkan anggaran APBN yang besar. Hal ini dipertanyakan oleh ekonom Universitas Indonesia, Berly Martawardaya, setelah program besar seperti Makan Bergizi Gratis dan Kopdes Merah Putih juga menjadi perhatian akibat penggunaan anggaran besar.
Berly mengacu pada pengalaman era Presiden SBY, di mana pemerintah membeli hak ceta buku pelajaran yang sudah tersedia. Langkah ini memungkinkan buku dicetak dengan biaya lebih rendah dan dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) antara Rp4.500 hingga Rp14.000. Selain itu, Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang telah ada selama beberapa dekade dapat dimanfaatkan untuk akses digital.
Ia menyarankan agar pemerintah memanfaatkan BSE dengan memperbesar ukuran font dan mengunggahnya ke website Kemdikdasmen, sehingga tidak perlu mengalokasikan dana APBN yang besar untuk pencetakan ulang. Dengan demikian, buku pelajaran berkualitas tetap tersedia dengan harga murah, baik cetak maupun digital.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 18 Agustus 2026 pukul 08.43
DPR Minta Pemerintah Geser Tolok Ukur Keberhasilan Ekonomi
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 06.06
Purbaya Bakal Tarik Pajak Baru Tahun Depan, tapi Tergantung Ini
VOI · 16 Agustus 2026 pukul 17.45
Purbaya Ungkap Alokasi Anggaran Capai Rp1.566 Triliun untuk Pendidikan, Perlinsos, dan Pangan
Berita terkait
Usai MBG dan Kopdes, Wacana Prabowo Cetak Ulang Buku Sekolah Hanya Pemborosan?
Warta Ekonomi · 17 Agustus 2026 pukul 19.30
SBY Bicara soal Ambisi Prabowo Kejar Ekonomi 6%: Saya Melihat...
Warta Ekonomi · 17 Agustus 2026 pukul 00.00
APBN 2027 Tembus Rp 4.097 Triliun, Cek 8 Program Prioritas Prabowo
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 08.15
Anggaran MBG Rp 240 Triliun Masih dari Pos Pendidikan, Purbaya Beri Penjelasan
Liputan6.com · 14 Agustus 2026 pukul 23.00