Usai MBG dan Kopdes, Wacana Prabowo Cetak Ulang Buku Sekolah Hanya Pemborosan?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wacana pemerintah mencetak ulang buku pelajaran tingkat SD, SMP, hingga SMA secara terpusat menuai sorotan publik. Rencana pengadaan buku ini dipertanyakan dari sisi efisiensi penggunaan APBN, terutama setelah pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Berly Martawardaya menyarankan pemerintah mencontoh kebijakan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada masa itu, pemerintah membeli hak cipta buku pelajaran yang ada dan mendanai penulisan buku oleh guru terpilih. Langkah ini berhasil menekan biaya cetak dan mematok Harga Eceran Tertinggi (HET) terjangkau, yakni sekitar Rp4.500 hingga Rp14.000 per buku.
Menurut Berly, pemerintah sebaiknya mengoptimalkan Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang sudah tersedia selama beberapa dekade alih-alih mencetak ulang. Buku digital tersebut cukup disesuaikan ukurannya dan diunggah kembali ke situs web kementerian, sehingga alokasi dana APBN yang besar dapat dialihkan untuk keperluan lain yang lebih mendesak.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
VOI · 16 Agustus 2026 pukul 17.45
Purbaya Ungkap Alokasi Anggaran Capai Rp1.566 Triliun untuk Pendidikan, Perlinsos, dan Pangan
Berita terkait
Ada Cara Hemat, Ekonom Pertanyakan Wacana Prabowo Cetak Ulang Buku Sekolah
Warta Ekonomi · 17 Agustus 2026 pukul 19.30
Anggaran MBG Rp 240 Triliun Masih dari Pos Pendidikan, Purbaya Beri Penjelasan
Liputan6.com · 14 Agustus 2026 pukul 23.00
Purbaya Beberkan Anggaran Pendidikan 2027 Rp 820 T, Perlinsos Rp 549 T
Detik.com · 14 Agustus 2026 pukul 19.00
Komisi IX: Anggaran MBG 2027 Sisa Rp50 T Jika Tak Ambil Pos Pendidikan
CNN Indonesia · 4 Agustus 2026 pukul 08.44