Jakarta · Selasa, 8 September 2026Cari
WargaKonoha

AI Bikin Kesenjangan Teknologi Makin Lebar, Negara Berkembang Diminta Tak Cuma Jadi Konsumen

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi memperlebar kesenjangan teknologi global, terutama bagi negara berkembang yang saat ini hanya menjadi konsumen teknologi. Isu ini dibahas dalam Bali Harmony Encounter Week 2026 yang berlangsung 2–7 September 2026 di Bali, menggabungkan pemerintah, sektor teknologi, akademisi, dan masyarakat sipil. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menekankan pentingnya transformasi negara berkembang dari sekadar pengguna menjadi pemain aktif dalam riset, inovasi, dan tata kelola AI global.

Forum ini juga menjadi bagian dari World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress pada 4–6 September 2026, yang mengundang lebih dari 140 universitas dari 70 negara dengan tema “Artificial Intelligence and Human Meaning”. Diskusi menekankan bahwa penguasaan AI tidak hanya soal penggunaan produk, tetapi juga kemampuan mengembangkan teknologi dan menetapkan aturan serta prinsip penggunaannya. Aspek manusia, makna sosial, serta peran generasi muda dan kearifan lokal juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembentukan etika teknologi masa depan.

Tantangan lain yang diangkat adalah kesiapan sumber daya manusia. Dalam Consultative Dialogue on Youth, inovator muda dan pelaku industri mendorong model pendidikan yang menggabungkan keterampilan teknis, kepemimpinan etis, dan pendekatan berpusat pada manusia. Pendekatan lintas sektor dianggap perlu untuk menjembatani perkembangan teknologi dengan kepentingan sosial, sehingga inovasi tetap mempertimbangkan dimensi kemanusiaan, bukan sekadar kemampuan teknologinya.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait