Alasan Ekonomi Vietnam Lebih Ngegas dari RI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan alasan mengapa pertumbuhan ekonomi Vietnam lebih cepat dibanding Indonesia. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5%, sementara Vietnam mencapai sekitar 9%. Menurut Airlangga, salah satu faktor utama adalah keberhasilan Vietnam dalam melakukan lompatan ke sektor digitalisasi, industri semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI). Indonesia masih tertahan di level industri menengah dan belum berhasil melompat ke sektor jasa modern dan digitalisasi seperti yang dilakukan Vietnam dan India.
Airlangga juga menyoroti peran penting Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam pertumbuhan ekonomi. Indonesia hanya memiliki sekitar 24.000 hektare KEK, sementara Vietnam lebih dari 2 juta hektare. KEK Vietnam didukung dengan kepastian hukum dan kualitas pelayanan investasi yang baik, sehingga lebih menarik bagi investor.
Di sisi lain, Vietnam lebih agresif dalam mengamankan kerja sama perdagangan dengan pasar utama dunia seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Vietnam lebih dulu menandatangani kerja sama dengan Eropa (CEPA) dan mendapatkan perlakuan tarif yang lebih menguntungkan dari AS dibanding Indonesia. Hal ini mendorong ekspor Vietnam lebih cepat, meskipun tidak memiliki pasar domestik yang besar seperti Indonesia.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 6 Oktober 2026 pukul 15.45
Pertumbuhan Vietnam Capai 9 Persen, Airlangga Dorong Digitalisasi hingga AI
CNBC Indonesia · 7 Oktober 2026 pukul 09.10
Ekonomi ASEAN 2026: Vietnam Juara-Thailand Paling Parah, RI Gimana?
Liputan6.com · 6 Oktober 2026 pukul 20.45
Airlangga Bongkar Cara Ekonomi Vietnam Lebih Ngebut dari Indonesia
Warta Ekonomi · 6 Oktober 2026 pukul 14.00
Airlangga Akui Vietnam Jadi Pesaing RI dalam Merebut Investasi
Berita terkait
Mari Elka Ungkap RI Kalah dari Vietnam dalam Menarik Investasi
kumparan · 29 September 2026 pukul 13.52
Bamsoet Dorong Kerja Sama RI-Jiangxi Naik dari Dagang ke Industrialisasi
Detik.com · 13 September 2026 pukul 21.58
LKPP: Pengadaan Rp911,7 Triliun Harus Beri Dampak Nyata bagi Ekonomi
SINDOnews · 3 Agustus 2026 pukul 17.24
Riyadh Air Buka Rute Jakarta, Bidik Perdagangan US$6,6 Miliar hingga Jemaah Haji
Warta Ekonomi · 6 Oktober 2026 pukul 19.30