Anomali Pedagang Telur: Harga Bagus, Tapi Daya Beli Masyarakat Melemah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pedagang telur di Pasar Pos Pengumben, Jakarta Barat, mengalami penurunan penjualan drastis hingga 60 persen meski harga telur stabil dan terjangkau. Tio (29), yang sudah lima tahun berjualan, mengaku penjualan mulai anjlok setelah Lebaran tahun ini. Kondisi ini berbeda dengan awal tahun saat permintaan masih normal.
Penurunan paling terasa dari pelanggan pelaku usaha makanan seperti warteg dan pedagang nasi goreng. Sebelumnya mereka membeli 5–6 kilogram telur per hari, kini hanya 2–3 kilogram. Pembeli rumah tangga pun tidak membeli telur setiap hari, memperparah kondisi bagi pedagang yang bergantung pada volume pembelian besar.
Anomali ini menunjukkan daya beli masyarakat melemah meski harga komoditas pokok relatif stabil. Pedagang kecil menjadi terdampak langsung karena pendapatan sangat bergantung pada aktivitas beli pelanggan usaha makanan.
Bagikan
Berita terkait
Niat Nabung Tinggi Tapi Kantong Tipis, Sinyal Daya Beli Lemah?
CNN Indonesia · 8 Agustus 2026 pukul 12.35
Target PPN 2027 Tembus Rp1.126 T, Tanda Daya Beli Warga RI Pulih?
CNBC Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 11.30
Ketika Para Pedagang Menerjemahkan Arti Kemerdekaan
JawaPos · 17 Agustus 2026 pukul 19.15
Kapan Waktu Terbaik Makan Telur? Bisa Berbeda Sesuai Tujuan
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 20.35