Bank Permata Kehilangan Dana Murah, Cost of Fund Berpotensi Naik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank Permata menghadapi pergeseran struktur pendanaan yang mengkhawatirkan pada semester I-2026. Dana murah (CASA) berupa giro dan tabungan menyusut, sementara deposito berjangka meningkat signifikan. Saldo giro turun 12,2% menjadi Rp64,74 triliun dan tabungan turun 9,4% menjadi Rp44,77 triliun. Sebaliknya, deposito berjangka naik 14,3% menjadi Rp79,65 triliun. Secara total, dana murah berkurang sekitar Rp13,6 triliun sementara dana deposito bertambah hampir Rp10 triliun dalam enam bulan.
Pergeseran ini berpotensi menekan biaya dana (cost of fund) karena deposito menawarkan bunga lebih tinggi dibanding giro dan tabungan, sehingga dapat mempersempit margin bunga bersih (NIM) apabila tidak diimbangi kenaikan imbal hasil aset produktif. Tekanan makin terasa mengingat Bank Indonesia telah menaikkan BI rate sebesar 100 basis poin pada periode Mei-Juni 2026, meski kini ditahan di level 5,75%. Pendapatan bunga dan syariah bersih Bank Permata turun menjadi Rp4,84 triliun dari Rp5,04 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, laba bersih masih naik menjadi Rp1,72 triliun dari Rp1,65 triliun, namun peningkatan ini ditopang oleh penurunan beban CKPN dari Rp1,06 triliun menjadi Rp795 miliar. Bank Permata juga mencatat kenaikan signifikan pada instrumen repo menjadi Rp10,91 triliun dari Rp2,26 triliun. Kualitas aset tetap terjaga dengan kredit tumbuh ke Rp158,98 triliun dari Rp152,11 triliun.
Bagikan
Berita terkait
Kinerja BRI Kinclong, 3 Indikator Ini di Atas Rata-Rata Industri
CNBC Indonesia · 1 Oktober 2026 pukul 11.40
LPS Kembali Tahan Suku Bunga Penjaminan pada Level 3,75%
SINDOnews · 30 September 2026 pukul 10.47
Ekonom: Sektor riil juga perlu diperkuat saat ruang BI-Rate terbatas
ANTARA News · 29 September 2026 pukul 20.12
Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Rate Bisa Naik Bulan Depan?
CNBC Indonesia · 29 September 2026 pukul 18.20