Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Biaya Energi Naik, Jepang Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah Jepang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal berjalan dari 1,3% menjadi 0,9% (PDB riil, berakhir Maret 2027). Pemangkasan dipicu kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah, yang menekan belanja rumah tangga dan keuntungan perusahaan. Jepang sangat bergantung pada impor bahan bakar sehingga terdampak langsung oleh lonjakan biaya energi.

Belanja rumah tangga diproyeksikan tumbuh 0,9%, lebih rendah dari estimasi Januari sebesar 1,3%. Belanja modal turun dari 2,8% menjadi 2,3%. Inflasi konsumen naik dari 1,9% menjadi 2,2%. Meski demikian, pemerintah memperkirakan pertumbuhan akan meningkat menjadi 1,1% pada tahun fiskal berikutnya, ditopang oleh belanja modal dan konsumsi rumah tangga yang menguat. Upah nominal diproyeksikan tumbuh 3,1% per tahun hingga tahun fiskal 2027.

Cabinet Office juga memperkirakan neraca primer akan kembali surplus sebesar 1,4 triliun yen (sekitar US$8,6 miliar) pada tahun fiskal 2027. Sebelumnya, neraca primer Jepang hampir selalu defisit sepanjang era pascaperang di luar periode gelembung aset 1986–1991, yang menyebabkan utang pemerintah membengkak lebih dari dua kali lipat ukuran PDB dan menjadi terbesar di antara negara maju. Target surplus ini telah beberapa kali ditunda sejak diperkenalkan pada awal 2000-an.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait