Keruk Nikel 13 Juta Ton Hasilkan PNBP Rp21 Triliun
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kementerian ESDM mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari komoditas nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, naik signifikan dari Rp10 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Peningkatan ini terjadi meskipun produksi bijih nikel menurun dari 320,37 juta ton pada 2025 menjadi 173,79 juta ton per 1 September 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan pertambangan kini lebih berorientasi pada nilai ekonomi daripada sekadar volume produksi.
Pemerintah terus mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Beberapa langkah nyata meliputi pengembangan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) di Obi untuk bahan baku baterai, produksi sel baterai HLI Green Power di Karawang, serta ekosistem terintegrasi ANTAM-IBC-CBL. Kebijakan larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 menjadi fondasi utama dalam memperkuat rantai nilai industri material dan manufaktur nasional.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 10 September 2026 pukul 16.45
Energy Insights Forum Soroti Pertambangan Indonesia ke Depan, Dorong Efisiensi dan Adopsi Teknologi
kumparan · 10 September 2026 pukul 15.28
Astra Prediksi Bisnis Tambang Bisa Membaik pada Semester II 2026
Detik.com · 9 September 2026 pukul 16.17
Kepala Pengawas Bursa Mineral Mau RI Tentukan Harga Nikel, Ini Alasannya
JPNN.com · 9 September 2026 pukul 06.58
380 Ton Stok Beras Mutu Rendah Bakal Diubah Jadi Tepung
Berita terkait
PNBP Nikel Capai Rp21 Triliun per Agustus 2026, Naik Dua Kali Lipat
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 20.10
Hilirisasi Tambang jadi Penopang Ketahanan Indonesia, dari Pertahanan hingga Energi
Liputan6.com · 30 Agustus 2026 pukul 15.23
Babak Baru Peta Jalan Industri Pertambangan Indonesia
kumparan · 30 Agustus 2026 pukul 14.25
10 Saran Ahli untuk Kembangkan Hilirisasi Emas RI
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 08.02