Bos BGN Ancam Tutup Dapur MBG Sebabkan Keracunan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengancam akan menutup dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan keracunan. Setiap kasus keracunan akan langsung disuspensi dan diinvestigasi; jika terbukti melanggar standar keamanan pangan, operasional dapur akan dihentikan. BGN menerapkan zero tolerance terhadap keracunan dengan target nol kasus.
Evaluasi sementara menunjukkan beberapa kasus dipicu pelanggaran prosedur operasional standar (SOP), seperti waktu pengolahan makanan yang terlalu jauh dari jadwal penyajian, misalnya di Papua dan Semarang. BGN juga mempertimbangkan unsur kesengajaan atau sabotase yang akan dilaporkan ke polisi. Selain itu, BGN akan memperkuat edukasi melalui guru sebagai PIC program untuk mencegah makanan dibawa pulang.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi adanya bakteri E. coli dalam beberapa makanan MBG dari kasus terbaru. Investigasi berlangsung untuk kasus di SMKN 6 Semarang dan Distrik Depapre, Jayapura, di mana ratusan siswa mengalami gejala keracunan. Penyebab pasti masih dalam pemeriksaan laboratorium.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 5 Agustus 2026 pukul 23.10
BGN Buka Peluang Libatkan Polisi Tangani Kasus Keracunan MBG
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 17.53
66 Kepala Dapur MBG Dipecat!
SINDOnews · 6 Agustus 2026 pukul 18.01
Penyebab Keracunan MBG Terbongkar, Makanan Dimasak Malam Dimakan Sore Hari
Detik.com · 6 Agustus 2026 pukul 14.51
Zulhas Umumkan Ponpes Boleh Bikin SPPG, Ini Kriteria dan Syaratnya
Berita terkait
136 Siswa SMA Negeri 1 Tunjungan Blora Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis
Media Indonesia · 8 September 2026 pukul 20.49
Ratusan Murid SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan MBG, Kepala BGN Minta Maaf, Tanggung Biaya Pengobatan
JPNN.com · 2 Agustus 2026 pukul 10.10
Gibran Minta MBG Tak Dimakan, Palti Hutabarat: Gak Dibelain Koalisi Sih
Warta Ekonomi · 30 September 2026 pukul 10.15
Gibran Minta Usut Tuntas Keracunan MBG, Ibaratkan Jika Anaknya Korban
CNN Indonesia · 29 September 2026 pukul 13.36