Dari Buruh Pabrik Jadi Ratu Kaca Ponsel Berharta Rp 320 Triliun
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/945046/original/009726000_1438659785-how-zhou-qunfei-a-factory-worker-became-chinas-richest-woman.jpg)
Zhou Qunfei, yang lahir di sebuah desa terpencil di Hunan, China pada 1970, kehilangan ibunya saat berusia lima tahun dan harus berjuang sejak dini. Ayahnya kehilangan penglihatan dan sebagian jari akibat kecelakaan kerja, sehingga kondisi ekonomi keluarga semakin sulit. Zhou dipaksa berhenti sekolah di usia 15 tahun dan pindah ke Shenzhen sebagai buruh migran, di mana ia bekerja keras di berbagai pekerjaan keras, termasuk sebagai petugas keamanan konstruksi dan di pabrik lensa jam tangki dengan gaji hanya sekitar Rp 16.000 per hari. Namun, ketekunannya belajar secara mandiri di malam hari, termasuk mengikuti kursus akuntansi dan komputer, membentuk dasar pengetahuan teknis dan manajemennya.
Pada 1993, ketika pabrik tempat Zhou bekerja bangkrut, ia menggunakan tabungan pribadi sebesar 20.000 dolar Hong Kong (sekitar US$ 3.000) untuk mendirikan perusahaan pemotongan dan pencetakan kaca jam tangki bersama keluarganya. Dedikasinya pada kualitas dan pemahaman mendalam tentang teknologi manufaktur kaca menjadi kunci pertumbuhan bisnisnya. Pada awal 2000-an, ia berhasil meyakinkan perusahaan elektronik besar untuk mengadopsi teknologi layar kaca buatan perusahaannya, dan pada 2003 ia mendirikan Lens Technology untuk fokus pada pembuatan layar kaca sentuh.
Peluang besar datang ketika Lens Technology mendapatkan kontrak pasokan utama untuk iPhone pertama Apple pada 2007, yang memicu ekspansi pesat. Perusahaannya kini mendominasi pasokan layar kaca sentuh untuk merek seperti Apple, Samsung, dan produsen mobil listrik. Lens Technology juga berhasil mencatatkan diri di bursa saham Shenzhen pada 2015. Akhir karier Zhou, kekayaannya diperkirakan mencapai antara US$ 16 miliar hingga US$ 18,2 miliar, atau sekitar Rp 320 triliun, menjadikannya salah satu pengusaha wanita terkaya di dunia yang sukses membangun imperiumnya dari nol.
Bagikan
Berita terkait
Krisis Chip Global: Kenapa Daya Tahan Baterai dan Durability Kini Jadi Standar Utama Membeli Smartphone
SINDOnews · 4 September 2026 pukul 22.19
KEK Industropolis Batang Bidik Investor Industri Berbasis Teknologi
Liputan6.com · 20 Agustus 2026 pukul 11.00
LG Setop Produksi Panel Surya, Ini Alasannya
Liputan6.com · 19 Agustus 2026 pukul 14.00
Prabowo Luncurkan Motor Listrik Nasional
Detik.com · 13 Agustus 2026 pukul 15.33