Jakarta · Senin, 28 September 2026Cari
WargaKonoha

Dibayangi Sikap Hawkish The Fed dan Data Ekonomi AS, Rupiah Berpotensi Tertekan

Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah pada perdagangan Senin (28/9) setelah sebelumnya ditutup kuat di Rp 17.903 per dollar AS pada Jumat (25/9). Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan fluktuasi rupiah berada dalam rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.100, dengan tekanan utama berasal dari sentimen eksternal. Di antaranya, kebijakan moneter The Fed yang tetap hawkish menjadi sorotan pasar. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden Wilayah New York John Williams dan Cleveland Beth Hammack, menegaskan komitmen mengembalikan inflasi ke target, sekaligus membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi belum mereda. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar akan kebijakan moneter yang lebih ketat, sekaligun dengan data ekonomi AS yang relatif tahan kuat. PMI S&P Global AS pada September mencapai level 58,4, tertinggi dalam lima tahun, sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 197.000, di bawah ekspektasi pasar. Data ini memperkokoh peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sekaligus menekan tekanan pada mata uang emerging market seperti rupiah. Meski Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan senjata perdagangan hingga Januari 2027, dampak positif dari isu ini masih terbatas sebelum adanya sinyal kebijakan moneter yang lebih dovish dari The Fed. Dengan tekanan gabungan dari kebijakan The Fed, data ekonomi AS yang kuat, dan ketidakpastian global, rupiah diproyeksikan akan tetap rentan terhadap tekanan penurunan dalam beberapa sesi ke depan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait