GAPKI Usul Kebijakan Biofuel Fleksibel, Sawit Bisa Dialihkan ke Ekspor
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

GAPKI mengusulkan kebijakan biofuel fleksibel agar alokasi sawit dapat disesuaikan dengan harga minyak bumi dan minyak sawit. Jika harga minyak bumi tinggi, penggunaan biodiesel didorong melalui subsidi. Sebaliknya, saat harga minyak sawit tinggi, alokasi dialihkan ke ekspor untuk menjaga penerimaan negara dari pungutan ekspor yang mendanai subsidi biodiesel tersebut.
Fleksibilitas ini diperlukan karena produksi CPO nasional stagnan di angka 51-56 juta ton, sementara konsumsi domestik terus naik. Kebutuhan CPO untuk biodiesel diprediksi meningkat dari 12,4 juta ton (2025) menjadi 17 juta ton pada 2027, yang berpotensi menurunkan volume ekspor sebesar 3-4 juta ton. Sebagai solusi, GAPKI menyarankan peningkatan produktivitas melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan pembuatan kawasan khusus sawit untuk energi agar tidak mengganggu pasokan pangan dan ekspor.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 10.50
Resmi! Harga Biodiesel RI Naik Rp15.072/Liter, Berlaku Oktober 2026
Berita terkait
BPS Ungkap B50 Bisa Tekan Ekspor Sawit Semester II 2026
CNN Indonesia · 4 Agustus 2026 pukul 12.26
GAPKI: Pasokan Sawit Hadapi Tekanan Ganda Jelang 2027, Ajak India Perkuat Kemitraan
JPNN.com · 30 September 2026 pukul 19.04
Biodiesel Disebut Hemat Devisa Ratusan Triliun, Pengamat Ungkap Hal Ini
Detik.com · 29 September 2026 pukul 12.51
Pengembangan B50 Harus Bermanfaat Nyata bagi Petani Sawit
SINDOnews · 28 September 2026 pukul 18.07