Industri Tambang Lesu, BPS Buka-bukaan Biang Keroknya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sektor pertambangan dan penggalan di kuartal kedua 2026 mengalami kontraksi sebesar 1,64% secara tahunan. Kontraksi ini didorong terutama oleh penurunan produksi pada subsektor pertambangan bijih logam, yang turun 9,42%. Beberapa komoditas seperti bijih bauksit, timah, dan nikel mengalami penurunan produksi. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa penurunan ini juga dipengaruhi oleh belum pulihnya operasi tambang Grasberg di Papua Tengah pasca-insiden longsor pada September 2025.
Sementara itu, pertambangan batu bara juga mencatatkan kontraksi sebesar 1,41%. BPS menyatakan hal ini terkait kebijakan penataan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan harga batu bara di pasar internasional. Akibat kondisi ini, pertumbuhan sektor pertambangan di Pulau Papua pada kuartal kedua 2026 hanya mencapai 1,36%, jauh di bawah 4,46% pada kuartal pertama 2026.
Papua Tengah menjadi provinsi yang paling terdampak akibat kontraksi ini, sekaligus menjadi penyumbang utama perlambatan sektor pertambangan nasional. BPS menekankan bahwa meskipun terjadi kontraksi, sektor ini tetap menjadi kontributor penting bagi perekonomian Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Izin Tambang Berakhir 2041, Ini Alasan Freeport Perpanjang Lebih Awal
Detik.com · 6 Agustus 2026 pukul 07.52
Batu Bara dan CPO Jadi Penyelemat Ekspor RI di Juli 2026
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 11.42
Batu Bara dan CPO Jadi Penyelemat Ekspor RI di Juni 2026
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 11.42
Pendapatan Turun, Kok Rugi DOID Susut 37,48%? Ini Penjelasan Manajemen
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 10.10