Isu Duet Dedi Mulyadi-Ahok di Pilpres 2029 Mencuat, Aktivis 212 Senggol Potensi Politik Identitas Lagi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wacana pasangan Dedi Mulyadi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk Pilpres 2029 mulai mendapatkan perhatian publik, termasuk dari aktivis 212 Damai Hari Lubis. Damai menyoroti kemungkinan bahwa isu ini sengaja dilempar ke ruang publik untuk mengukur respons masyarakat, sekaligus menilai kedua figur memiliki karakter politik yang berbeda. Dedi Mulyadi dikenal memiliki basis dukungan kuat di Jawa Barat dengan pendekatan yang mengangkat budaya lokal, sementara Ahok dikenal dengan pengalaman pemerintahan dan gaya kepemimpinan yang tegas. Jika dipasangkan, keduanya bisa menjadi kombinasi antara politik berbasis budaya lokal dan teknokrasi pemerintahan.
Namun, Damai juga mengingatkan adanya potensi munculnya politik identitas jika wacana ini berkembang lebaih jauh. Ia merujuk pada kontestasi politik sebelumnya seperti Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 serta 2024, yang menunjukkan bahwa isu sosial, agama, dan etnis masih dapat menjadi bagian dari strategi mobilisasi politik. Menurutnya, karakter dan latar belakang kedua figur berpotensi menjadi bahan untuk membangun narasi tandingan dalam kontestasi politik.
Meskipun wacana ini ramai diperbincangkan, hingga kini tidak ada keputusan resmi mengenai pasangan calon yang akan diusung untuk Pilpres 2029. Isu ini masih berada pada tahap spekulasi politik.
Bagikan
Berita terkait
Duet Dedi Mulyadi-Ahok Disebut Mustahil, Ternyata Terganjal Aturan Ini
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 09.25
Wacana Dedi Mulyadi-Ahok Terganjal 'Gunung Besar' di Indonesia
Warta Ekonomi · 2 September 2026 pukul 22.49
Dedi Mulyadi Bisa Jadi Kuda Hitam Melawan Prabowo di 2029: Solo Aja Naksir Dia
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 15.05
Wacana Dedi Mulyadi-Ahok Mustahil Terjadi: Lebih Realistis Jika Dipasangkan Gibran
Warta Ekonomi · 2 September 2026 pukul 22.44