Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga AS Bayangi Pasar Keuangan RI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperingatkan risiko konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed terhadap pasar keuangan Indonesia. Konflik geopolitik memicu ketidakpastian global yang berdampak pada harga komoditas dan perdagangan, sementara suku bunga AS yang bertahan lama berpotensi mengganggu arus modal global, nilai tukar rupiah, serta meningkatkan biaya pembiayaan utang pemerintah.
Meski tertekan, Indonesia dinilai memiliki daya tahan berkat pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang solid dan inflasi terkendali. Per 14 September 2026, tercatat akumulasi arus masuk modal sebesar Rp140,7 triliun melalui SBN dan SRDI. Pemerintah kini fokus menjaga kredibilitas fiskal dan koordinasi moneter untuk menghadapi tekanan eksternal tersebut.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
ANTARA News · 23 September 2026 pukul 12.23
ANTARA gelar ABF 2026 perkuat sinergi ekonomi menuju 2027
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 20.59
Nilai Dagang RI-Korsel US$10,3 M, Bank Woori Saudara Perkuat Layanan
Berita terkait
Menkeu Ungkap Kabar Baru: Konflik Timteng Tambah Seru, Bunga Fed Naik!
CNBC Indonesia · 18 September 2026 pukul 10.01
Rupiah Dibuka Melemah, Dibayangi Konflik Timur Tengah
Warta Ekonomi · 21 September 2026 pukul 09.15
Indonesia Juara Satu, Ini 10 Negara Pencetak Orang Kaya Baru
Liputan6.com · 20 September 2026 pukul 22.02
Gejolak Geopolitik Timur Tengah Bayangi Pasar, Harga Emas Diprediksi Makin Berkilau
JawaPos · 20 September 2026 pukul 15.00