Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

Lika-liku Para Pencari Kerja: Ngaku Sering Di-ghosting hingga Tak Cocok Gajinya

Para pencari kerja muda di Indonesia, seperti Fathur (23), lulusan Teknik Informatika, mengalami kesulitan dalam proses rekrutmen. Fathur mengirimkan lebih dari 100 lamaran namun sering mengalami 'ghosting', terutama setelah lolos ke tahap interview. Selain itu, ia menemukan job mismatch seperti syarat pengalaman 1-2 tahun untuk posisi entry level, gaji di bawah standar upah daerah, dan jarak kantor yang jauh sehingga biaya transportasi tidak terjangkau. Akhirnya, ia menolak banyak tawaran kerja karena tidak sesuai ekspektasinya.

Salsa (23), lulusan Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta, juga mengalami ghosting saat proses rekrutmen dan menolak pekerjaan karena gaji di bawah UMR. Ia merasa ide-ide yang diajukan dalam tugas rekrutmen tidak pernah mendapatkan umpan balik, sehingga merasa ide-nya dicuri. Putri (24), lulusan Akuntansi Universitas Padjajajar, juga mengalami ghosting hingga setelah melewati beberapa tahap interview termasuk wawancara dengan direksi, namun tidak pernah mendapatkan kejelasan hasil.

Subchan Gatot, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Ketenagakerjaan, menjelaskan bahwa tantangan utama adalah kesenjangan kompetensi pelamar dengan kebutuhan industri. Perusahaan tidak hanya mencari kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, dan kerja sama. Gaji yang ditawarkan seringkali tidak sesuai dengan ekspektasi kandidat, terutama untuk posisi pemula. Untuk mengatasi job mismatch, perlu penyederhanaan proses seleksi, penilaian potensi, dan penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.

Berita terkait