Mendag: G20 Sepakat Tolak Pangan Jadi Alat Tekan Politik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5521752/original/080779900_1772699319-1000252433.jpg)
Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, menyampaikan hasil Pertemuan Menteri Perdagangan G20 di Milwaukee, AS, pada 3 Oktober 2026. Para menteri G20 sepakat menolak penggunaan bahan pangan sebagai alat tekanan geopolitik, sependeknya pangan berhubungan dengan kelangsungan hidup. Selain itu, isu kelebihan kapasitas industri, praktik kerja paksa, serta aturan tarif MFN WTO menjadi fokus diskusi. Kebijakan harus berlandaskan bukti nyata dan menghargai perbedaan sistem ekonomi masing-masing negara. Indonesia menekankan pentingnya kerja sama nyata dalam penyelesaian isu-isu tersebut demi stabilitas perdagangan global. Terkait kerja paksa, Indonesia membuktikan komitmennya melalui ratifikasi 9 dari 10 Konvensi ILO, serta penerapan Peraturan Menteri Perdagangan No. 9/2026 melarang impor barang hasil kerja paksa. Kesepakatan G20 juga menegaskan perlindungan hak pekerja tetapi tidak boleh dipolitisasi untuk menekan negara lain.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
ANTARA News · 3 Oktober 2026 pukul 12.46
Mendag sebut G20 TMM tolak pangan sebagai alat tekanan geopolitik
Berita terkait
Mendag hadiri G20 TMM suarakan kepentingan perdagangan nasional
ANTARA News · 29 September 2026 pukul 06.59
Indonesia-Bulgaria Jajaki Perluasan Pasar Produk Pangan dan Pertanian
Detik.com · 15 September 2026 pukul 12.51
BRICS Tolak Penerapan Sanksi Sepihak
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 19.41
AS Tiba-Tiba Beri Pesan Penting ke Negara G20, Ada Apa?
CNBC Indonesia · 31 Agustus 2026 pukul 21.20