Jakarta · Senin, 5 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Operasi Senyap BI di Tengah Tekanan Rupiah

Rupiah masih tertekan melebihi Rp 18.000 per dolar AS, jauh dari target APBN 2026 sebesar Rp 16.500. Berdasarkan data Jisdor, kurs rupiah berada di kisaran Rp 17.877 hingga Rp 17.998 selama seminggu terakhir. Tekanan ini disebabkan oleh peningkatan permintaan valuta asing, terutama pada kuartal III 2026, yang berkaitan dengan kebutuhan impor dan sentimen global. Bank Indonesia (BI) menurunkan batas pembelian valas tanpa underlying dari USD 100.000 menjadi USD 10.000 per orang per bulan untuk mengurangi spekulasi.

BI juga menggeser strategi intervensinya dari transaksi spot yang mahal ke instrumen seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan bahwa intervensi melalui spot kini hanya sekitar 30 persen dari total intervensi. BI mempertahatkan BI-Rate di 5,75 persen serta suku deposit facility 4,75 persen dan lending facility 6,500 persen untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai langkah-langkah BI sebagai pertahanan berlapis. Namun, ia menekankan bahwa tekanan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor global seperti kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS. Pada akhir September, rupiah sempat melewati Rp 18.000, namun pulih ke Rp 17.878 pada 2 Oktober. BI juga memperluas insentif lindung nila dan menguatkan sektor eksternal melalui peningkatan ekspor dan investasi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait