Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pasar Tunggu Sanksi AS ke Iran, Harga Minyak Turun ke US$92,34

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026) setelah beberapa pekan menguat. Minyak Brent dibuka di US$92,34 per barel, turun 2,17% dari penutupan Jumat sebelumnya di US$94,39. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga terkoreksi menjadi US$85,10 per barel, turun 2,25% dari US$87,06. Penurunan ini terjadi seiring pasar menunggu pengumuman paket sanksi baru AS terhadap Iran yang dijadwalkan diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Meskipun terkoreksi, tren kenaikan harga minyak masih terlihat dalam beberapa sesi terakhir, dengan Brent naik sekitar 6,5% sejak 14 Agustus dan WTI naik lebih dari 3% dalam periode yang sama. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh memanasnya konflik di Timur Tengah dan gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.

Tekanan jual muncul karena ketidakpastian terkait kebijakan sanksi AS. Pemerintah AS menyebut kebijakan tersebut sebagai ofensif finansial terbesar yang pernah diterapkan terhadap Iran, yang akan menyasar mitra dagang negara tersebut. Iran merespons dengan ancaman menghentikan seluruh ekspor minyak dari Teluk Persia jika tekanan AS berlanjut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan tidak akan ada minyak yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun kawasan Teluk jika perang ekonomi terus berlangsung. Ancaman ini menjadi perhatian besar karena Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan tersebut sebelumnya.

Pasar tetap waspada meskipun Iran masih membuka jalur bagi kapal tanker minyak Irak untuk melintasi Selat Hormuz setelah permintaan Baghdad. Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, menilai belum ada kepastian apakah isolasi ekonomi terhadap Iran akan mengurangi ekspor minyak secara signifikan. Jika kebijakan berhasil, risiko eskalasi konflik di Timur Tengah akan meningkat dan berpotensi mendorong lonjakan harga energi. Pengumuman sanksi AS dan respons lanjutan Iran diproyeksikan menjadi penentu arah harga minyak pada perdagangan pekan ini.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait