PDIP: Algoritma Desil Ini Sungguh Ancaman Nyata terhadap Nasib Rakyat Kecil di Indonesia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Politikus PDIP Guntur Romli mengkritik keras penggunaan algoritma desil untuk menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Menurutnya, sistem klasifikasi ini berpotensi salah membaca kondisi ekonomi warga dan menyebabkan kelompok miskin kehilangan hak atas bantuan pemerintah. Guntur mengklaim terdapat masyarakat yang status desilnya berubah atau meningkat meski kondisi ekonomi mereka tidak mengalami perbaikan secara nyata.
Guntur memberikan contoh konkret seorang tukang becak di Malioboro, Yogyakarta, serta sekitar ratusan mahasiswa yang terancam kehilangan bantuan kuliah akibat peningkatan status desil keluarga. Ia juga menyoroti pekerja informal dengan penghasilan tidak tetap yang tercatat di desil 10, kasta tertinggi yang biasanya identik dengan pengusaha besar. Menurutnya, kasus serupa melibatkan dosen honorer dan pekerja serabutan yang berpenghasilan pas-pasan namun terlempar ke desil atas.
Guntur mempertanyakan kemampuan sistem desil dalam menggambarkan kemampuan ekonomi secara menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa klasifikasi administratif tidak selalu menangkap faktor seperti besarnya penghasilan sebenarnya, utang, tanggungan keluarga, dan biaya hidup. Akibatnya, algoritma yang hanya membaca kategori profesi secara sembarangan dapat menyebabkan sistem merampas hak hidup rakyat kecil dari akses bantuan sosial dan pendidikan.
Bagikan
Berita terkait
PDIP: Rakyat Kecil Dipaksa Membuktikan Kemiskinannya Sendiri
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 14.47
PDIP ke Projo dan Jokowi: Katanya Acara Relawan, Kok Gak Disuruh Turun ke Daerah Bencana? Malah Ngomong Manuver Politik
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 16.01
Agenda di Balik Isu Desil, PDIP: Angka Kemiskinan Turun, Orang Mampu Naik, Anggaran Bansos Jadi...
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 14.34
Pengakuan Mahfud MD: RUU Perampasan Aset Pernah Bikin Takut PDIP
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 03.37