Selat Hormuz Memanas, Ekspor Minyak Timteng Justru Tembus Level Sebelum Perang
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563534/original/033369400_1776904230-AP26108447289863.jpg)
Ekspor minyak mentah Timur Tengah melampaui level sebelum konflik, mencapai rata-rata di atas 18 juta barel per hari. Data Kpler per 30 September mencatat 16,5 juta barel meninggalkan kawasan tersebut, tidak termasuk ekspor Iran. Peningkatan ini terjadi meski situasi Selat Hormuz memanas akibat serangan terhadap kapal-kapal.
Negara eksportir menggunakan jalur alternatif untuk menghindari blokade Iran. Arab Saudi mengaktifkan kembali pipa East-West menuju Laut Merah, sementara UEA menggunakan pipa Abu Dhabi ke Fujairah. Sekitar 40% pengiriman kini menghindari Selat Hormuz. Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami penurunan, dengan Brent North Sea turun menjadi US$ 101,44 dan WTI menjadi US$ 90,02 per barel.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
kumparan · 5 Oktober 2026 pukul 16.25
Sejak Perang AS-Iran, RI Cari Negara Kelebihan Pasokan Minyak Tanpa Lelang
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 14.40
Sempat Kehilangan 25% Impor BBM, Ini Cara RI Amankan Stok Nasional
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 07.25
Bocoran Kondisi Ekonomi RI Memasuki Kuartal IV-2026
CNBC Indonesia · 5 Oktober 2026 pukul 07.20
Semua Bomber AS Tinggalkan Inggris, Selat Hormuz Makin Panas
Berita terkait
Punya Rute Lain, Ekspor Minyak Negara Teluk Dekati Level sebelum Perang
SINDOnews · 30 September 2026 pukul 22.58
Harga Minyak Mentah Menguat Tipis Imbas Ketidakpastian Pasokan dari Timur Tengah
kumparan · 1 Oktober 2026 pukul 09.06
Harga Minyak Mentah Naik 1 Persen Awal Pekan, AS Tolak Proposal Iran
kumparan · 28 September 2026 pukul 08.58
Harga Minyak AS Anjlok Hampir 8% Usai AS-Iran Bertemu
Liputan6.com · 26 September 2026 pukul 06.35