Timah Buka-bukaan Proyeksi Laba Hingga Update Proyek LTJ
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Manajemen PT Timah (Persero) Tbk (TINS) proyeksikan laba bersih semester II-2026 setara atau lebih tinggi dibanding semester I-2026, didorong oleh harga logam timah yang masih kuat. Peraturan Presiden 79/2026 diharapkan perbaiki tata kelola pertambangan timah dari hulu ke hilir, khususnya di area operasi Belitung. Cash cost hingga semester I-2026 sebesar US$ 22.435 per metrik ton, dengan proyeksi naik ke US$ 23.000-24.000 per metrik ton pada akhir 2026 akibat kenaikan harga BBM. Meski demikian, margin tetap terjaga karena kenaikan harga jual timah lebih tinggi dibanding biaya.
Untuk CAPEX 2026, TIMAH menargetkan belanja modal Rp 446 miliar, dengan 90% untuk operasional produksi dan eksplorasi, 10% untuk investasi non-rutin seperti transformasi sistem ERP dari ECC 6 ke SAP S/4HANA. Konsumsi timah global hingga Juli 2026 mencapai 179 ribu ton, sementara produksi global semester I-2026 hanya 173 ribu ton, menciptakan gap sekitar 3%. Manajemen proyeksikan harga timah bertahan di US$ 47.000-55.000 per ton hingga 2026 dan seterusnya.
Proyek logam tanah jarang (LTJ) masih dalam tahap riset dan pengembangan, dengan tiga calon mitra dalam proses penjajaran. Pemetaan cadangan melibatkan kerja sama dengan PERMINAS dan Badan Investasi Mineral. TIMAH targetkan mitra pengelola tanah jarang mengerucut pada 2026, dengan monetisasi proyek dibahas setelah riset validasi cadangan, teknologi, dan CAPEX disepakati.
Bagikan
Berita terkait
Update Harga Komoditas: Minyak hingga Batu Bara Menguat, Nikel Melemah
kumparan · 15 September 2026 pukul 08.45
Kejagung Periksa 2 Pegawai Bea Cukai Terkait Kasus Tambang PT PMM
Liputan6.com · 15 September 2026 pukul 02.00
Peta Penguasa Logam Tanah Jarang Dunia, di Mana Posisi RI?
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 15.30
RI Sulit Garap "Harta Karun" Langka, Negara Lain Kunci Teknologinya
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 14.35