Video: Dominasi Produksi EV ASEAN, RI Harus "Berani" Lakukan Ini
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah dorongan pemerintah Indonesia mengembangkan ekosistem kendaran listrik berbasis nikel, sebagian besar electric vehicle (EV) yang masuk ke Indonesia masih berasal dari China dan menggunakan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate), bukan NMC (Nickel Manganese Cobalt Oxide). Menurut Agus Tjahajana Wirakusumah, Komisaris Independen PT Astra Otomart Tbk (AUTO), pengembangan teknologi baterai NMC dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi industri lokal Indonesia dalam persaingan pasar EV. Keunggulan energy density dan charging time pada baterai NMC dianggap mampu memperkuat posisi produksi EV domestik. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan dalam hal riset dan pengembangan teknologi EV. Untuk memanfaatkan potensi pasar yang diperkirakan akan terus berkembang di kawasan ASEAN, diperlukan penguatan ekosistem EV secara keseluruhan, termasuk industri komponen pendukung. Indonesia juga perlu bersaing secara langsung dengan negara seperti Vietnam yang telah memiliki kapasitas produksi EV yang cukup mapan. Dengan penguatan riset, pengembangan, dan ekosistem industri yang terintegrasi, diharapkan Indonesia dapat merebut porsi pasar yang signifikan di wilayah ini.
Bagikan
Berita terkait
LFP Makin Dominan, IBC: Nikel Belum Tamat di Industri Baterai
Warta Ekonomi · 15 September 2026 pukul 08.00
Industri Bakery Asia Tenggara Meningkat, Indonesia Berpotensi Tumbuh hingga 8 Persen di 2028
JawaPos · 27 Agustus 2026 pukul 17.15
Menaker: Kerangka ketenagakerjaan ASEAN berdampak bagi SDM-dunia usaha
ANTARA News · 27 Agustus 2026 pukul 11.27
Menperin: Penerima insentif EV untuk produk bernilai tambah tinggi
ANTARA News · 6 Agustus 2026 pukul 16.48