Video: Investor Ramai-ramai Buang US Treasury, Apa Efeknya ke Rupiah?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah rencana Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali surat utang sebesar USD 6 miliar, yield US Treasury naik signifikan. Pada akhir perdagangan Rabu (9/9), yield US Treasury 10 tahun mencapai 4,845% dan 30 tahun mencapai 5,295%, sebagaimana dilaporkan data Refinitiv. Lonjakan ini mencerminkan penurunan kepercayaan investor terhadap pengelolaan keuangan AS, terutama di tengah ketegangan AS-Iran.
Menurut Maesaroh, ekonomis CNBC Indonesia Research, lonjakan harga US Treasury sekaligus peningkatan yield menunjukkan ketidakpastian pasar. Investor global cenderung menarik dana dari aset berisiko tinggi, termasuk di pasar emerging markets seperti Indonesia.
Dampaknya terhadap pasar keuangan global, termasuk SBN dan rupiah, diperkirakan cukup besar. Yield yang tinggi di AS dapat menarik aliran modal kembali ke AS, melemahkan permintaan terhadap mata uang dan surat utang negara-negara berkembang. Rupiah berpotensi mengalami tekanan depresiasi, sementara SBN dapat mengalami penurunan likuiditas pasar sekunder.
Bagikan
Berita terkait
Video: Bunga Obligasi AS Melonjak, Bond Viligante " Hantui: Trump?
CNBC Indonesia · 11 September 2026 pukul 11.53
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.512 per Dolar AS, Pasar Pantau Buyback UST
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 09.58
Rupiah Menguat ke Level Rp17.628 per Dolar AS Hari Ini
CNN Indonesia · 4 September 2026 pukul 09.25
Video: Pengelola Dana Jumbo Ungkap Nasib Rupiah-Kebijakan BI dan The Fed
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 15.33