Video: Pengelola Dana Jumbo Ungkap Nasib Rupiah-Kebijakan BI dan The Fed
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pasar keuangan Indonesia masih tertekan oleh volatilitas global akibat ketegangan Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, dan tekanan inflasi, yang memengaruhi saham, SBN, dan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia diproyeksikan akan tetap konservatif dalam menetapkan BI Rate hingga akhir 2026, meski mempertimbangkan kondisi rupiah. Director Eastsprings Investments Indonesia, Liew Kong Qian, menilai BI sudah berada di posisi "a head of the curve" sehingga peluang kenaikan suku bunga BI dianggap terbatas. Di sisi lain, The Fed diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan Fed Funds Rate (FFR) satu kali lagi hingga akhir 2026. Liew menekankan bahwa sentimen pasar dalam dan luar negeri akan terus menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter di Indonesia. Diskusi ini disampaikan oleh Shania Alatas dalam program Power Lunch CNBC pada Rabu, 2 September 2026.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 2 September 2026 pukul 13.04
Sentimen dari The Fed Menguat, Bagaimana Kondisi Rupiah Hari Ini
ANTARA News · 2 September 2026 pukul 10.18
Kurs rupiah Rabu pagi melemah seiring eskalasi konflik AS-Iran
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 15.38
Rupiah Menguat ke Rp17.679, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI di Era Destry
kumparan · 3 September 2026 pukul 12.08
Sempat Anjlok, Ini Penyebab Harga Emas Global Kembali Melesat
Berita terkait
Video: Jika Suku Bunga The Fed Belum Dipangkas, Ini Efeknya ke BI Rate
CNBC Indonesia · 29 Agustus 2026 pukul 12.01
Rupiah Menguat ke Rp17.718, Pasar Tunggu Arah Suku Bunga dari Pidato Kevin Warsh
VOI · 28 Agustus 2026 pukul 17.15
Rupiah Hari Ini Loyo ke 17.744 Tersengat Data Ekonomi AS
Liputan6.com · 27 Agustus 2026 pukul 20.15
Rupiah Ditutup Melemah 0,11%, Dolar AS Naik ke Rp17.715
CNBC Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 15.04