Wamen ESDM Ungkap Dampak Besar APBN Jika RI Tak Beralih ke EBT
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan keterlambatan transisi energi ke bioenergi, elektrik, dan terbarukan (EBT) akan memicu masalah besar pada APBN. Ketergantungan pada energi fosil yang harganya fluktuatif dan berbiaya tinggi akan terus membebani fiskal negara. Dampaknya, subsidi dan kompensasi energi yang saat ini mencapai Rp400 triliun bisa melonjak menjadi Rp700-900 triliun, menuntut tambahan pembiayaan utang atau efisiensi ketat di sektor lain. Untuk mengatasi ini, perlu mempercepat penggunaan EBT.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 1 September 2026 pukul 11.21
Kuota LPG 3 Kg Diproyeksikan Jebol, Subsidi Membengkak Rp 7 Triliun
Warta Ekonomi · 1 September 2026 pukul 08.07
Pertamina Perluas Peluang Bisnis Rendah Karbon melalui Pengembangan Ekosistem Baterai
Warta Ekonomi · 1 September 2026 pukul 07.15
Harga BBM Non-Subsidi Naik Lagi, Cek Rincian Harga Pertamax Turbo hingga Pertamina Dex Terbaru
kumparan · 31 Agustus 2026 pukul 20.30
Bahlil Targetkan Lifting Minyak Naik Jadi 612.500 Barel per Hari pada 2027
Berita terkait
Bahlil Ibaratkan Harga Minyak Dunia seperti Demam Malaria: Pagi Turun, Malam Naik
Warta Ekonomi · 19 Agustus 2026 pukul 16.55
Bahlil Buka Suara Soal Potensi Pembengkakan Subsidi Energi
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 20.10
Video: Prabowo Dorong Transisi Energi, Pembiayaan Perbankan Memadai?
CNBC Indonesia · 31 Agustus 2026 pukul 15.37
Pemerintah Otak-Atik Batasi Konsumsi BBM Pertalite, Apa Urgensinya?
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 16.50