Jakarta · Sabtu, 26 September 2026Cari
WargaKonoha

Rupiah Kian Terjepit, Yield AS Melonjak ke 5,2%

Tekanan terhadap rupiah semakin kuat seiring kenaikan imbal hasil surat utang AS. Yield US Treasury 10 tahun mendekati 5,2%, sementara yield 30 tahun mencapai 5,48%, tertinggi sejak 2004. Kenaikan ini dipengaruhi oleh harga minyak yang tinggi dan data ekonomi AS yang masih kuat, memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed. Pasar menilai kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober mencapai 67%, setelah kenaikan 25 basis poin pada September sebagai langkah pertama dalam tiga tahun. Tekanan eksternal ini menyebabkan rupiah melemah mendekati Rp17.900 per dolar AS, terpengaruh penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter global yang ketat. Di dalam negeri, kepercayaan konsumen melemah dan konsumsi rumah tangga lesu menambah tekanan. Kekhawatiran fiskal juga meningkat akibat kenaikan harga minyak dan wacana perubahan batas defisit APBN di atas 3% PDB. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% dan meningkatkan insentif hedging FX swap menjadi 25% untuk mendorong aliran modal asing. Meski langkah-langkah telah diambil, rupiah melemah sekitar 0,8% dalam seminggu. Rupiah akan terus dipengaruhi oleh yield US Treasury, kebijakan The Fed, harga minyak, dan kondisi ekonomi domestik.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait