Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Fluktuasi Emas, Rupiah, dan Ekspektasi Suku Bunga Fed pada Data Ekonomi AS

Harga emas mengalami pergerakan signifikan pada akhir September 2026. Pada 10 September, emas spot turun 0,9% menjadi US$4.359,19 per ons setelah data inflasi AS Agustus yang kuat dan kenaikan harga minyak. Namun, pada 11 September, emas spot naik 1,1% menjadi US$4.363,01 per ons, didorong oleh harapan kenaikan suku bunga Federal Reserve yang diproyeksikan 87% peluang kenaikan, naik dari 67% sebelumnya. Perbedaan nilai emas antara kedua hari mencerminkan reaksi pasar terhadap data ekonomi dan spekulasi kebijakan moneter.

Rupiah mengalami lemah terhadap dolar AS, menutup di level Rp17.585 pada perdagangan akhir pekan, meskipun menguat 0,26% dalam seminggu dari Rp17.630 pada Jumat lalu. Tekanan rupiah dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) ke 99,096, serta kekhawatiran gangguan pasokan energi Timur Tengah. Harga minyak Brent berfluktuasi antara US$105 hingga US$108,96 per barel, memperkuat dolar serta memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga Fed.

Data ekonomi AS menjadi faktor penentu utama. PPI AS Agustus mencapai 5,4% yoy, melampaui ekspektasi 5,3%, sementara CPI naik 0,4% bulan lalu. Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed berbeda antara media: Liputan6.com menyebutkan 68% peluang kenaikan pada 10 September, sementara CNBC Indonesia mencantumkan 71,3% pada pertemuan FOMC 15-16 September, naik menjadi 87% pada 11 September. ECB juga menaikkan suku bunga dua kali pada tahun ini.

Menurut tiap media