Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Gempa M7,7 NTT dan Ancaman Tsunami dari Sesar Naik Flores

Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB, dengan kedalaman 15 km. Liputan6.com melaporkan magnitudo 7,7, sementara Liputan6.com versi lain dan CNBC Indonesia juga menyebutkan magnitudo 7,7. Namun, Liputan6.com versi kedua melaporkan magnitudo 7,0. Gempa ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Flores, sebuah patahan aktif di dasar laut utara Bali hingga Nusa Tenggara yang terbentuk akibat tekanan Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Menurut Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), sebaran episentrum gempa utama dan gempa susulan membentuk kluster paralel dengan jalur Sesar Naik Flores.

Sesar Naik Flores merupakan ancaman permanen karena potensi deformasi vertikal dasar laut yang dapat membangkitkan tsunami. Sejarah mencatat beberapa kejadian besar, seperti gempa M7,8 tahun 1992 yang menewaskan lebih dari 2.500 orang, gempa M7,0 pada 22 November 1815 yang memicu tsunami di Bali utara dan Lombok, gempa M7,5 di Bima pada 28 November 1836, gempa M7,0 pada 13 Mei 1857, dan gempa M6,6 di Seririt, Bali, pada 14 Juli 1976 yang menyebabkan 559 korban jiwa dan 67.419 rumah rusak. Daryono menegaskan bahwa catatan gempa dan tsunami masa lalu ini membuktikan aktivitas Sesar Naik Flores yang masih berpotensi menimbulkan ancaman di masa depan.

Karakteristik gempa dangkal dan mekanisme patahan jenis thrust faulting menjadi penyebab utama deformasi vertikal pada dasar laut, yang pada gilirannya memicu gelombang tsunami. Daryono menekankan bahwa meskipun tidak ada teknologi yang dapat memprediksi waktu pasti terjadinya gempa, ancaman dari sesar ini bersifat permanen. Oleh karena itu, penting dilakukan upaya mitigasi yang nyata, seperti sosialisasi, edukasi, dan pembangunan bangunan tahan gempa, agar masyarakat dapat hidup lebih aman dan harmonis dengan alam.

Menurut tiap media