Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kabut Asap Karhutla Seberkas Jambi dan Riau Ganggu Kesehatan, Penerbangan, dan Sekolah

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Jambi dan sebagian wilayah Sumatera, menimbulkan dampak nyata pada kesehatan, transportasi, dan kegiatan sosial. Di Jambi, kabut asap menyebabkan peningkatan kunjungan rumah sakit hingga 40 persen, terutama untuk kasus gangguan pernapasan dan jantung. Partikel PM2.5 yang ada di kabut asap berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, cukup kecil untuk masuk ke paru-paru dan aliran darah. Masyarakat, terutama anak-anak, mengalami gejala seperti batuk, mata perih, sesak napas, pilek, dan sakit tenggorokan. Pemerintah Provinsi Jambi memutuskan meliburkan sementara sekolah PAUD dan TK karena ISPU PM2.5 di Kota Jambi mencapai 171 hingga 207, sementara di Kabupaten Muaro Jambi mencapai 289 hingga 314.

Di sisi lain, kabut asap juga mengganggu operasional penerbangan. Di Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi, dua pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta gagal mendarat karena jarak pandang menurun hingga 800 meter, kemudian dialihkan ke bandara lain. Di Kalimantan Selatan, kabut asap di Banjarbaru menyebabkan 10 penerbangan terdampat di Bandara Syamsudin Noor, dengan jarak pandang turun hingga 200 meter pada pukul 06.30 WITA sebelum pulih hingga 1.500 meter.

Untuk membantu masyarakat, Danrem 042 Garuda Putih mendistribusikan 6.000 masker gratis di Jambi, sementara Kementerian Kesehatan melaporkan sekitar 3 juta orang terdampak di berbagai wilayah. Pemerintah Provinsi Riau juga menyiapkan sekitar 110.000 masker. Di samping itu, data BPBD Provinsi Jambi mencatat luas lahan terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 658,29 hektare, dengan Muaro Jambi sebagai daerah terdampak terbesar. Legislator Efendi Alung meminta penanganan karhutla yang lintas sektoral, termasuk pencegahan, patroli, pemadaman terpadu, dan penegakan hukum.

Menurut tiap media