Jakarta · Minggu, 13 September 2026Cari
WargaKonoha

Ketegangan Iran-AS di Selat Hormuz & Dampak Global

Beberapa media melaporkan keterlibatan Iran dalam konflik terbuka dengan Amerika Serikat (AS) sejak Februari 2026, yang bermula setelah serangan AS dan Israel terhadap Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dan menolak peran AS sebagai 'polisi kawasan', sementara Presiden AS Donald Trump mengklaim AS akan memenangkan perang dan sempat mengusulkan nama baru untuk danau dan teluk di Kanada. Di tengah ketegangan ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menghancurkan kapal pengintai nirawak AS di pintu masuk Selat Hormuz, termasuk drone Saildrone nomor 5838, serta mencegat drone bawah laut AS di lokasi yang sama. IRGC juga melaporkan telah menargetkan 10 kapal asing yang mencoba melintasi zona terlarang dan memblokir akses pelayaran bebas di Selat Hormuz.

Konflik ini berdampak signifikan pada pasar energi global. Harga minyak Brent sempat mencapai USD 108,23 per barel sebelum turun menjadi USD 104,61 setelah Iran mengumumkan rencana pertemuan dengan negara Teluk di Oman. Produksi minyak Arab Saudi turun ke tingkat terendah sejak 1990, memperparah kenaikan harga. Selain itu, konflik ini juga menyebabkan kematian 10 pelaut India pada Juli 2026 dan menurunkan volume pengiriman minyak di Selat Hormuz secara drastis.

Analis menilai bahwa strategi Iran bertujuan untuk melemahkan posisi politik Presiden Trump menjelang pemilihan umum sela AS pada 3 November. Namun, langkah agresif Iran juga membawa risiko domestik akibat krisis ekonomi yang memicu protes besar-besaran di dalam negeri.

Menurut tiap media