Klaim AS sebagai Produsen Minyak Terbesar dan Dampak Konflik Iran
Rangkuman gabungan dari 3 media · disusun dengan AI
Presiden Donald Trump mengklaim AS menjadi produsen minyak terbesar di dunia melalui kesepakatan energi dengan North American Blue Energy Partners (NABEP) yang melibatkan cadangan minyak Venezuela sekitar 65 miliar barel. Kesepakatan ini memberikan 35% saham ekuitas kepada Office of Strategic Capital di bawah Departemen Pertahanan AS dan hak bagi Departemen Luar Negeri AS untuk membeli 20% hasil produksi sesuai biaya produksi. Terdapat perbedaan klaim durasi konsesi 17 ladang minyak, di mana NABEP menyebutkan 100 tahun sementara pemerintah Venezuela mengklaim hanya 25 tahun. Gedung Putih memperkirakan royalti dan pajak senilai 200 miliar dolar AS selama 25 tahun pertama untuk pembangunan Venezuela.
Di sisi lain, harga minyak global melonjak dengan Brent mencapai US$101 per barel dan WTI di atas US$96 per barel akibat perang AS-Iran yang memasuki bulan ke-7. Trump menghubungkan kenaikan ini dengan ancaman nuklir Iran dan mengklaim militer AS telah menghancurkan 10 kapal tanker Iran dalam sepekan terakhir. Trump menjanjikan harga energi, termasuk bensin di bawah US$2 per galon, akan turun setelah pemilu Kongres November, meski prediksi ini diragukan oleh analis Patrick De Haan. Terdapat perbedaan perspektif mengenai status produksi AS; satu sumber menyebut AS produsen terbesar dengan memasukkan cadangan Venezuela, sementara sumber lain menyebut AS terbesar jika cadangan tersebut tidak termasuk.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
CNBC Indonesia
Harga Minyak Tembus US$101, Trump Umumkan Kapan Anjlok
10 September 2026 pukul 12.02 · Baca aslinya ↗
Media Indonesia
Trump Jumawa AS Kuasai Produksi Minyak Global
10 September 2026 pukul 20.41 · Baca aslinya ↗
JPNN.com
Trump Klaim AS Jadi Produsen Minyak Terbesar di Dunia
10 September 2026 pukul 22.15 · Baca aslinya ↗