Jakarta · Minggu, 23 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pemerintah dan PLN Percepat Pengembangan Panas Bumi untuk Ketahanan Energi Nasional

Pemerintah Indonesia mempercepat lelang 14 lokasi panas bumi yang sebelumnya direncanakan hingga 10 tahun ke depan. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, mengumumkan percepatan ini di IICC Jakarta pada 20 Agustus 2026. Proyek ini menargetkan kebutuhan listrik beban dasar di Sumatera dan Sulawesi yang menjadi kritis. Dari 14 lokasi, 5 adalah Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) utama: Danau Ranau (40 MW), Hamiding (50 MW), Songgoriti (40 MW), Oka Ile Ange (10 MW), dan Gunung Sirung (5 MW) dengan total kapasitas 145 MW. Sembilan lokasi lainnya termasuk tujuh Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) yang memiliki potensi sumber daya sekitar 321 MW dengan cadangan 247 MW. Percepatan diharapkan mempercepat investasi sebesar US$2,2 miliar dan menambah pasokan listrik terbarukan. Pemerintah juga mendorong partisipasi pelaku lokal melalui sistem Genesis.

PT PLN (Persero) menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) meningkat dari 2,8 GW saat ini menjadi 7,9 GW pada 2033. Target ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pengembangan energi panas bumi untuk memperkuat ketahanan energi nasional, sesuai arah pengembangan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa penambahan kapasitas sebesar 5,1 GW akan dikembangkan melalui 110 proyek, dengan 25 proyek dikelola PLN dan 85 proyek dikelola oleh independent power producer (IPP). PLN membuka skema GEECA dan SECA untuk 79 proyek, di mana 25 unit (0,6 GW) dikembangkan internal dan 85 unit (4,5 GW) oleh IPP.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyatakan dampak ekonomi besar dari pengembangan panas bumi, termasuk penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal. Di Kamojang, Garut, PGEO berhasil membangun ekonomi mandiri melalui penguatan pengetahuan dan pengembangan komunitas selama lebih dari 40 tahun. Indonesia berada pada peringkat ke-2 dunia dalam kapasitas panas bumi terpasang dengan total potensi 23.202,77 MW, namun hanya 11,6% yang telah dimanfaatkan. Pemerintah targetkan penambahan kapasitas 185 MW pada 2026 dengan investasi US$ 1,16 miliar. Realisasi PNBP panas bumi mencapai Rp 2,45 triliun dengan target Rp 2,6 triliun pada 2026. PLN Indonesia Power dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menandatangani Letter of Intent untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan kapasitas total 45 MW. Proyek menggunakan teknologi bottoming untuk memanfaatkan fluida panas bumi yang belum digunakan pada PLTB Ulubelu 30 MW di Lampung dan Lahendong 15 MW di Sulawesi Utara. Kolaborasi ini meningkatkan total potensi pengembangan menjadi 230 MW.

Menurut tiap media