Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

AI Bikin Petani Gagal Panen,10 Hektar Ladang Wijen Mati

Seorang petani berusia 67 tahun di Chuzhou, China, mengalami kerugian besar setelah mengikuti saran dari aplikasi chatbot AI untuk pengendalian gulma dan hama di lahan pembibitan wijennya yang seluas 10 hektar. AI menyarankan penggunaan campuran bahan kimia termasuk flusulfasulfaether, yang sebenarnya merupakan herbisida untuk gulma berdaun lebar di ladang kedelai. Petani tersebut menggabungkan dan menyemprotkan semua bahan tersebut ke seluruh ladang tanpa memverifikasi keamanannya. Keesokan harinya, seluruh bibit wijemnya pun mati terbakar akibat bahan kimia tersebut. Saat kembali bertanya ke AI, petani diberi tahu bahwa flusulfasulfaether justru tidak aman untuk tanaman wijen karena secara botani termasuk kategori tanaman berdaun lebar. AI juga mengakui bahwa bahan tersebut seharusnya hanya disemprotkan pada area gulma yang terdampak, bukan disebar luas di seluruh ladang. Petani tersebut mengaku marah karena AI tidak memberi peringatan tentang bahaya saran tersebut sebelumnya.

Insiden ini menjadi bagian dari serangkaian kasus di mana pengguna merugi akibat menelan informasi dari AI secara mentah-mentah. Pada tahun sebelumnya, seorang pria berusia 60 tahun menderita keracunan bromida kronis setelah ChatGPT menyarankannya untuk menggunakan sodium bromide sebagai pengganti garam dapur. Sodium bromide emang aman untuk proses pembersihan, namun sangat beracun jika dikonsumsi manusia. Kondisi ini bahkan tercatat sebagai kelainan psikiatris langka yang jarang ditemui sejak abad ke-19. Kasus-kasus ini memperkuat pentingnya tidak mempercayai AI secara penuh, terutama dalam hal-hal krusial, dan selalu memverifikasi informasi sebelum mengambil tindakan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait