Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Petani Minta Saran AI, Tanaman 25 Hektare Mati Padahal Baru Disemai

Seorang petani 67 tahun di Chuzhou, China, kehilangan hampir 25 hektare lahan wijennya setelah mengikuti saran chatbot AI untuk mengendalirkan gulma. Chatbot yang diminta merekomendasikan campuran pestisida justru menyarankan penggunaan flusulfasulfaether, yang justru membunuh tanaman wijen karena termasuk tanaman berdaun lebar. Akibatnya, seluruh bibit wijen di lahannya (24,7 hektare) mata dalam semalam. Petani, yang sebelumnya ragu-ragu terhadap AI, akhirnya memutuskan mempercayai rekomendasi tersebut tanpa memverifikasinya lebih lanjut. Chatbot sebenarnya sudah menampilkan peringatan bahwa AI bisa salah dan perlu diverifikasi, namun petani mengabaikannya. Para ahli yang kemudian meninjau kasus ini memastikan bahwa flusulfasulfaether memang tidak cocok untuk disemprotkan ke seluruh lahan karena sifatnya yang spesifik dan berbahaya bagi tanaman berdaun lebar seperti wijen. Kerugian ini bisa saja dihindari jika petani melakukan pencarian atau berkonsultasi dengan ahli pertanian sebelum bertindak. Kasus ini menjadi contoh nyata risiko penggunaan AI tanpa verifikasi, terutama dalam pengambilan keputusan penting yang bisa berdampak besar pada hasil pertanian.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait