Petani Minta Saran AI, Tanaman 25 Hektare Mati Padahal Baru Disemai
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Seorang petani 67 tahun di Chuzhou, China, kehilangan hampir 25 hektare lahan wijennya setelah mengikuti saran chatbot AI untuk mengendalirkan gulma. Chatbot yang diminta merekomendasikan campuran pestisida justru menyarankan penggunaan flusulfasulfaether, yang justru membunuh tanaman wijen karena termasuk tanaman berdaun lebar. Akibatnya, seluruh bibit wijen di lahannya (24,7 hektare) mata dalam semalam. Petani, yang sebelumnya ragu-ragu terhadap AI, akhirnya memutuskan mempercayai rekomendasi tersebut tanpa memverifikasinya lebih lanjut. Chatbot sebenarnya sudah menampilkan peringatan bahwa AI bisa salah dan perlu diverifikasi, namun petani mengabaikannya. Para ahli yang kemudian meninjau kasus ini memastikan bahwa flusulfasulfaether memang tidak cocok untuk disemprotkan ke seluruh lahan karena sifatnya yang spesifik dan berbahaya bagi tanaman berdaun lebar seperti wijen. Kerugian ini bisa saja dihindari jika petani melakukan pencarian atau berkonsultasi dengan ahli pertanian sebelum bertindak. Kasus ini menjadi contoh nyata risiko penggunaan AI tanpa verifikasi, terutama dalam pengambilan keputusan penting yang bisa berdampak besar pada hasil pertanian.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 12 Agustus 2026 pukul 20.46
AI Bikin Petani Gagal Panen,10 Hektar Ladang Wijen Mati
SINDOnews · 14 Agustus 2026 pukul 18.26
Apple Melatih Model AI-nya Sendiri Khusus Melawan Produk China
CNN Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 17.30
Taiwan Kena Serangan Siber Abnormal, China Diduga Dalangnya
SINDOnews · 14 Agustus 2026 pukul 06.52
Rudal AI China Bisa Deteksi Jejak Panas Jet Tempur Siluman, F-22 dan F-35 AS Tak Lagi Aman
Berita terkait
DeepSeek dan Alibaba Buka Akses Model AI, Persaingan Makin Ketat
VOI · 16 Agustus 2026 pukul 14.30
Dihantam Bencana Besar, Begini Taktik China agar Selamat
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 21.30
Amerika Berubah 180 Derajat, Akhirnya Menyerah Ikut Cara China
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 13.15
Heboh Startup China Jadi Milik AS, Begini Nasibnya Sekarang
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 07.40