Krisis Baru Hantam Malaysia, Singapura Sudah Kena Duluan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Malaysia menghadapi krisis baru dalam industri data center setelah bertahun-tahun menikmati investasi asing yang pesat. Protes besar-besaran terjadi di Johor, pusat pembangunan data center yang telah menarik investasi lebih dari US$35 miliar, terkait dampak terhadap energi dan air. Di Selangor, negara bagian terkaya dan terpadat, keluhan masyarakat juga muncul mengenai beban data center.
Untuk mendapatkan 'izin sosial', perusahaan seperti ZDATA dan NTT menerapkan praktik berkelanjutan, termasuk menggunakan air limbah yang diolah dan sistem pendingin hemat air. Pemerintah negara bagian Johor melarang data center boros air, sementara Selangor mewajibkan 30% konten lokal dalam proyek. Penolakan warga menyebabkan penundaan 57% proyek data center global tahun lalu.
Situasi ini mencerminkan dilema yang pernah dihadapi negara maju seperti Singapura, Irlandia, dan Belanda. Analis Savills, Nicholas Tuan, memperkirakan investasi mungkin beralih ke negara seperti Thailand, meskipun Johor tetap memiliki keunggulan stabilitas infrastruktur.
Bagikan
Berita terkait
Video: Langkah BKPM Promosikan Potensi RI Ke Investor Teknologi Global
CNBC Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 20.00
Anwar Ibrahim Buka-bukaan Korban Gibran, Rp 880 Miliar Lenyap Seketika
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 11.30
Taj Yasin Dorong Pemerataan EBT demi Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng
JPNN.com · 12 Agustus 2026 pukul 17.37
Geger Data Center Raksasa Telan Anggaran Sampai Rp 18.000 Triliun
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 14.45