Jakarta · Sabtu, 26 September 2026Cari
WargaKonoha

Laju AI Mau Direm, Indonesia Berpeluang Kejar Ketertinggalan

Seruan para bos teknologi raksasa untuk mengerem laju pengembangan AI menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Pengamat AI Alva Erwin menilai jeda rilis model global seperti ChatGPT dan Anthropic memberi ruang bagi industri lokal untuk memahami, mengadaptasi, dan mengoptimalkan teknologi yang sudah ada. Menurutnya, Indonesia perlu fokus pada pengembangan aplikasi dan model relevan, seperti bahasa daerah dan budaya lokal, serta meningkatkan kapabilitas domestik agar tidak terlalu bergantung pada API luar negeri.

Namun, perlambatan AI juga menimbulkan tantangan, seperti kenaikan biaya hardware akibat potensi restriksi ekspor semikonduktor. Erwin menekankan pentingnya adopsi dan hilirisasi solusi AI yang cepat, sekaligus penerapan tata kelola risiko yang proporsional. Indonesia saat ini masih berperan sebagai konsumen dan pengguna, belum mampu membangun model AI terskini (frontier model). Membatasi adopsi AI justru berisiko menurunkan produktivitas nasional dan daya saing industri di era digital.

Untuk respons yang tepat, Erwin mendorong pemanfaatan AI di sektor bernilai tinggi seperti kesehatan, pertanian, pendidikan, logistik maritim, dan keuangan, dengan prinsip aman, transparan, inklusif, dan bertanggung jawab. Regulasi harus berbasis risiko, tetapi tetap memberi ruang fleksibel bagi inovasi di sektor non-fatal. Penguatan infrastruktur, talenta AI, riset, dan literasi masyarakat juga menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna API, tetapi mampu mengembangkan arsitektur AI privat dan menjaga kedaulatan data.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait