Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

59 Tahun ASEAN: Masih Cukupkah Bicara Sentralitas?

Pada 8 Agustus 2026, ASEAN merayakan ulang tahun ke-59-nya di tengah lingkungan internasional yang semakin tidak pasti. Rivalitas kekuatan besar kini tidak hanya terbatas pada pengaruh politik dan militer, tetapi juga meluas ke sektor perdagangan, teknologi, semikonduktor, mineral kritis, energi, dan rantai pasok. Konflik bersenjata di berbagai wilayah menunjukkan kerapuhan interdependensi global, sementara banyak negara semakin memilih proteksionisme dan kebijakan industri untuk melindungi kepentingan strategisnya. Bagi Asia Tenggara, yang terletak di persimpangan jalur perdagangan global, setiap perubahan geopolitik langsung memberi dampak. Negara-negara kawasan perlu menjaga akses ke pasar, teknologi, investasi, energi, dan rantai pasok, sekaligus mempertahankan ruang strategis agar tidak bergantung berlebihan pada satu kekuatan tertentu.

Di tengah dinamika ini, sejumlah tantangan lintas batas semakin menuntut kolaborasi, seperti keamanan energi, ketahanan rantai pasok, perubahan iklim, transisi energi hijau, keamanan siber, tata kelola kecerdasan buatan, dan keamanan maritim. Isu-isu tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu negara secara mandiri, sehingga peran ASEAN sebagai forum multilateral semakin relevan. Melalui berbagai mekanisme seperti ASEAN Regional Forum, ASEAN Plus Three, East Asia Summit, dan ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus, ASEAN telah berhasil menjadi pusat dialog yang inklusif, bahkan ketika hubungan antar-kekuatan besar mengalami ketegangan. Keberadaan ruang dialog ini diakui sebagai aset strategis penting dalam menjaga stabilitas kawasan.

Namun, di tengah kompleksitas global, sekadar menjadi tempat berbicara tidak lagi dianggap cukup. Negara-negara kini membutuhkan mekanisme yang tidak hanya memungkinkan diskusi, tetapi juga dapat memberikan solusi konkret, seperti mengamankan rantai pasok, menghubungkan jaringa energi, meningkatkan kemampuan menghadapi serangan siber, memperoleh akses teknologi, atau merespons gangguan keamanan secara cepat. Pertanyaan yang semakin muncul adalah apakah kebijakan sentralitas yang selama ini menjadi landasan diplomasi ASEAN masih cukup untuk menjaga relevansinya di tengah tantangan-tantangan tersebut.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait