Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Anggota DPR Tuntut Starbucks Tutup Gerai, Sebut Bangkrut Secara Moral

Starbucks membuka dua gerai baru di Xinjiang, China pada akhir September 2026, menimbulkan kecaman dari anggota DPR Amerika Serikat. John Moolenaar, Ketua Komite Terpilih DPR AS untuk China, menyebut kehadiran Starbucks di wilayah tersebut sebagai tindakan yang "bangkrut secara moral" karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur. Menurut Moolenaar, lebih dari satu juta warga Uighur dilaporkan ditahan dan kebudayaan mereka dirampas oleh pemerintah China. Ia menegaskan bahwa setiap penjualan di gerai tersebut mengaitkan merek Amerika dengan kampanye keras pemerintah China. Pembukaan gerai ini terjadi setelah Starbucks menjual saham pengelola bisnis ritelnya di China kepada Boyu Capital, perusahaan investasi Hong Kong, pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China menolak tuduhan penindasan dan menyatakan bahwa Xinjiang telah mencapai stabilitas sosial, pertumbuhan ekonomi, dan kerukunan beragama. Pemerintah China menegaskan bahwa kamp-kamp tersebut adalah fasilitas pendidikan untuk memerangi terorisme, bukan penahanan paksa. Beberapa perusahaan Barat lain seperti Hilton dan InterContinental Hotels Group juga pernah mendapat kritik serupa atas operasional di Xinjiang. Di dalam negeri, para pengunjung di gerai Starbucks di Urumqi tampak antusias, dengan video yang beredar di media sosial China menunjukkan antrean panjang dan penggunaan merchandise bertema lokal.

Berita terkait