Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Arab Saudi Disebut Lagi Dilema, MBS Terjepit-Stabilitas Terancam

Arab Saudi terjebak dalam dilema akibat memanasnya konflik AS dan Iran. Meski berusaha menghindari keterlibatan langsung sejak perang pecah pada 28 Februari, Riyadh kini melancarkan operasi gabungan bersama AS terhadap milisi pro-Iran di Irak. Pilihan sulitnya: terus serang balik atau redakan ketegangan demi cegah konflik kawasan meluas.

Dilema ini mengancam stabilitas ekonomi Saudi, terutama program Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang bertujuan kurangi ketergantungan minyak, tarik investasi asing, dan bangun infrastruktur modern. Serangan drone dan rudal menghantam wilayah Saudi, termasuk fasilitas minyak strategis Abqaiq. Iran juga tutup Selat Hormuz, memaksa Saudi alihkan ekspor sekitar lima juta barel minyak per hari melalui pipa ke terminal Yanbu di Laut Merah.

Namun jalur alternatif itu pun terancam. Houthi membalas serangan Saudi dengan serang bandara Abha dan Jizan serta tingkatkan serangan terhadap kapal-kapal Saudi di Laut Merah, membuat pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb semakin berisiko. Saudi kini menghadapi ancaman ganda dari selatan oleh Houthi dan dari utara oleh milisi Irak, bertolak belakang dengan ambisi Visi 2030 yang butuh stabilitas keamanan dan iklim investasi kondusif.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait